“Rumusan masalahmu masih terlalu luas, coba diperbaiki dulu.”
Kalau kamu sedang menyusun proposal skripsi, kemungkinan besar pernah mendengar komentar seperti itu dari dosen pembimbing.
Judul sudah disetujui.
Latar belakang sudah selesai.
Namun ketika masuk ke bagian rumusan masalah, tiba-tiba bingung harus menulis apa.
Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang menganggap rumusan masalah hanya formalitas. Akibatnya, pertanyaan penelitian dibuat asal-asalan tanpa benar-benar menggambarkan inti penelitian.
Padahal, rumusan masalah adalah “kompas” penelitian. Dari sinilah tujuan penelitian, hipotesis, metode, hingga analisis data akan ditentukan.
Kalau rumusan masalahnya kurang tepat, penelitianmu bisa kehilangan arah sejak awal.
Lalu, bagaimana cara membuat rumusan masalah yang baik, jelas, dan mudah diteliti?
Yuk, kita bahas langkah demi langkah.
Apa Itu Rumusan Masalah?
Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang ingin dijawab melalui proses penelitian.
Sederhananya, rumusan masalah menjelaskan:
“Hal apa yang ingin diketahui dari penelitian ini?”
Misalnya kamu ingin meneliti penggunaan media Canva dalam pembelajaran.
Rumusan masalahnya bisa berupa:
Apakah penggunaan media Canva berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa?
Dari satu pertanyaan sederhana itu, seluruh proses penelitian akan berkembang.
Kenapa Rumusan Masalah Sangat Penting?
Rumusan masalah memiliki peran besar dalam sebuah penelitian.
Karena dari bagian inilah akan lahir:
- Tujuan penelitian.
- Hipotesis (untuk penelitian kuantitatif).
- Variabel penelitian.
- Teknik pengumpulan data.
- Analisis data.
- Kesimpulan penelitian.
Kalau rumusan masalah tidak jelas, kemungkinan besar bagian-bagian lainnya juga akan sulit disusun.
Ciri-Ciri Rumusan Masalah yang Baik
Sebelum mulai menulis, pastikan rumusan masalahmu memenuhi beberapa kriteria berikut.
1. Jelas
Gunakan kalimat yang mudah dipahami.
Hindari pertanyaan yang bertele-tele.
2. Fokus
Rumusan masalah hanya membahas satu pokok persoalan dalam satu pertanyaan.
Semakin fokus, penelitian akan semakin mudah dilakukan.
3. Bisa Diteliti
Pertanyaan harus dapat dijawab melalui pengumpulan data, bukan berdasarkan opini pribadi.
4. Relevan dengan Judul
Pastikan rumusan masalah benar-benar sesuai dengan judul penelitian.
Kalau judul membahas motivasi belajar, jangan membuat rumusan masalah tentang hasil belajar.
5. Memiliki Nilai Akademik
Rumusan masalah sebaiknya lahir dari fenomena nyata atau research gap, bukan sekadar rasa penasaran.
Langkah-Langkah Menyusun Rumusan Masalah
Langkah 1: Mulai dari Masalah di Lapangan
Jangan langsung membuat pertanyaan.
Cari dulu masalah yang benar-benar terjadi.
Misalnya:
- Motivasi belajar siswa menurun.
- Guru belum memanfaatkan media digital.
- Minat menabung di bank syariah masih rendah.
- UMKM belum memahami sertifikasi halal.
Masalah inilah yang menjadi dasar penelitian.
Langkah 2: Tentukan Fokus Penelitian
Jangan mencoba membahas semuanya sekaligus.
Misalnya ada tiga masalah:
- Motivasi belajar.
- Disiplin belajar.
- Hasil belajar.
Pilih salah satu.
Dengan begitu penelitian menjadi lebih terarah.
Langkah 3: Sesuaikan dengan Metode Penelitian
Kalau menggunakan penelitian kuantitatif, biasanya rumusan masalah menggunakan kata:
- Apakah…
- Seberapa besar…
- Adakah pengaruh…
- Bagaimana hubungan…
Contoh:
Apakah literasi keuangan syariah berpengaruh terhadap minat menabung mahasiswa?
Kalau menggunakan penelitian kualitatif, gunakan pertanyaan seperti:
- Bagaimana…
- Mengapa…
- Seperti apa…
Contoh:
Bagaimana strategi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa?
Langkah 4: Gunakan Kalimat Sederhana
Banyak mahasiswa membuat pertanyaan terlalu panjang.
Contoh kurang efektif:
Bagaimana pengaruh penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi digital terhadap peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas XI di salah satu Madrasah Aliyah Negeri?
Lebih baik menjadi:
Apakah penggunaan media pembelajaran digital berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa?
Lebih singkat, tetapi maknanya tetap jelas.
Contoh Rumusan Masalah Berdasarkan Metode Penelitian
Contoh Penelitian Kuantitatif
Judul:
Pengaruh Literasi Keuangan Syariah terhadap Minat Menabung Mahasiswa
Rumusan masalah:
- Apakah literasi keuangan syariah berpengaruh terhadap minat menabung mahasiswa?
- Seberapa besar pengaruh literasi keuangan syariah terhadap minat menabung mahasiswa?
Contoh Penelitian Kualitatif
Judul:
Strategi Guru PAI dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
Rumusan masalah:
- Bagaimana strategi guru PAI dalam meningkatkan motivasi belajar siswa?
- Apa saja faktor pendukung dan penghambat strategi tersebut?
Contoh Penelitian Manajemen Pendidikan Islam
Judul:
Manajemen Program Tahfiz Al-Qur’an di Madrasah
Rumusan masalah:
- Bagaimana perencanaan program tahfiz Al-Qur’an di madrasah?
- Bagaimana pelaksanaan program tahfiz?
- Bagaimana evaluasi program tahfiz?
Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa
Supaya rumusan masalahmu tidak mudah direvisi, hindari beberapa kesalahan berikut.
Terlalu Banyak Pertanyaan
Semakin banyak rumusan masalah, penelitian akan semakin luas.
Idealnya cukup 2–4 pertanyaan yang benar-benar penting.
Tidak Sesuai Judul
Judul dan rumusan masalah harus saling berkaitan.
Kalau tidak sinkron, dosen biasanya langsung meminta revisi.
Menggunakan Kalimat yang Ambigu
Hindari kata-kata yang memiliki banyak makna.
Gunakan istilah yang jelas dan mudah dipahami.
Tidak Bisa Dijawab Melalui Penelitian
Rumusan masalah harus dapat dijawab dengan data, wawancara, observasi, atau kuesioner.
Jangan membuat pertanyaan yang bersifat spekulatif.
Tips Agar Rumusan Masalah Cepat Disetujui Dosen
Kalau ingin lebih mudah mendapatkan persetujuan, coba lakukan beberapa tips berikut.
1. Buat Berdasarkan Latar Belakang
Jangan sampai rumusan masalah muncul tanpa hubungan dengan latar belakang.
Pembaca harus melihat alur yang logis.
2. Gunakan Kata Tanya yang Tepat
Pilih kata tanya sesuai tujuan penelitian.
Misalnya:
- Apa
- Bagaimana
- Mengapa
- Apakah
- Seberapa besar
3. Diskusikan Sejak Awal dengan Dosen
Jangan menunggu proposal selesai.
Rumusan masalah yang sudah disepakati sejak awal akan mengurangi revisi di tahap berikutnya.
4. Sesuaikan dengan Data yang Bisa Didapat
Jangan membuat pertanyaan yang sulit dijawab karena data tidak tersedia.
Penelitian yang sederhana tetapi datanya lengkap akan lebih mudah diselesaikan.
Checklist Sebelum Menulis Rumusan Masalah
Sebelum melanjutkan ke tujuan penelitian, pastikan beberapa hal berikut sudah terpenuhi.
✅ Berasal dari masalah nyata.
✅ Sesuai dengan judul penelitian.
✅ Menggunakan kalimat yang jelas.
✅ Tidak terlalu luas.
✅ Bisa dijawab melalui penelitian.
✅ Memiliki manfaat akademik.
Kalau semua poin ini sudah terpenuhi, kemungkinan besar rumusan masalahmu sudah berada di jalur yang tepat.
FAQ
Berapa jumlah rumusan masalah yang ideal dalam skripsi?
Tidak ada aturan baku, tetapi umumnya terdiri dari 2 hingga 4 pertanyaan yang sesuai dengan ruang lingkup penelitian.
Apakah rumusan masalah harus berbentuk pertanyaan?
Ya. Rumusan masalah biasanya disusun dalam bentuk kalimat tanya karena akan dijawab melalui proses penelitian.
Apa perbedaan rumusan masalah dan tujuan penelitian?
Rumusan masalah berisi pertanyaan penelitian, sedangkan tujuan penelitian adalah jawaban yang ingin dicapai dari pertanyaan tersebut.
Bolehkah mengubah rumusan masalah saat proses bimbingan?
Boleh. Selama penelitian masih berada pada tahap proposal dan perubahan telah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing, rumusan masalah dapat disesuaikan.
Apakah rumusan masalah harus sama dengan hipotesis?
Tidak. Hipotesis hanya digunakan pada penelitian tertentu, terutama penelitian kuantitatif, sedangkan rumusan masalah selalu menjadi dasar penelitian.
Penutup
Rumusan masalah adalah fondasi yang menentukan arah penelitianmu. Semakin jelas pertanyaan yang kamu susun, semakin mudah menentukan tujuan penelitian, memilih metode, mengumpulkan data, hingga menarik kesimpulan.
Jangan terburu-buru menulis rumusan masalah hanya untuk memenuhi format proposal. Luangkan waktu memahami masalah di lapangan, membaca penelitian terdahulu, dan memastikan bahwa setiap pertanyaan benar-benar dapat dijawab melalui penelitian.
Ingat, skripsi yang baik tidak selalu dimulai dari judul yang rumit, tetapi dari rumusan masalah yang fokus, logis, dan relevan. Dengan fondasi yang kuat sejak awal, proses menyusun proposal hingga menyelesaikan skripsi akan terasa jauh lebih terarah.
Ingin mendapatkan lebih banyak panduan seputar skripsi dan penelitian? Ikuti terus artikel kami yang membahas cara menentukan judul, mencari research gap, menyusun state of the art, membuat proposal, memilih metode penelitian, hingga tips menghadapi seminar proposal dan sidang skripsi dengan bahasa yang ringan, praktis, dan mudah dipahami.