Apa Itu Research Gap? Panduan Lengkap agar Skripsimu Lebih Mudah Di-ACC

Apa itu research gap? Pelajari pengertian research gap, jenis-jenisnya, cara menemukannya, serta contoh research gap untuk skripsi dan penelitian dengan penjelasan yang mudah dipahami.

Apa Itu Research Gap? Panduan Lengkap agar Skripsimu Lebih Mudah Di-ACC

“Research gap kamu mana?”

Kalau kamu sedang menyusun proposal skripsi, kemungkinan besar pernah mendapat pertanyaan seperti itu dari dosen pembimbing.

Lalu kamu mulai berpikir…

“Research gap itu sebenarnya apa, sih?”

Tenang, kamu nggak sendirian.

Banyak mahasiswa yang sudah punya judul, sudah mengumpulkan jurnal, bahkan sudah menulis latar belakang, tetapi masih bingung saat diminta menunjukkan research gap.

Padahal, research gap adalah salah satu bagian penting dalam sebuah penelitian. Tanpa research gap yang jelas, dosen bisa bertanya,

“Kalau penelitian ini sudah pernah dilakukan orang lain, terus apa bedanya penelitian kamu?”

Nah, supaya kamu nggak bingung lagi, yuk kita bahas research gap dengan bahasa yang santai, mudah dipahami, dan tanpa istilah yang bikin pusing.

Apa Itu Research Gap?

Secara sederhana, research gap adalah celah atau kekosongan dalam penelitian yang belum terjawab oleh penelitian-penelitian sebelumnya.

Celah inilah yang menjadi alasan kenapa penelitian baru perlu dilakukan.

Anggap saja seperti ini.

Bayangkan kamu sedang menyusun puzzle.

Sebagian besar potongan puzzle sudah terpasang.

Tapi masih ada satu bagian yang kosong.

Nah, bagian yang kosong itulah yang disebut research gap.

Tugas peneliti adalah mengisi bagian yang belum lengkap tersebut.

Jadi, tujuan penelitian bukan mengulang penelitian lama, melainkan memberikan tambahan pengetahuan atau sudut pandang baru.

Baca juga: Cara Mengidentifikasi Gap Penelitian dari Artikel Jurnal Ilmiah

Kenapa Research Gap Itu Penting?

Coba bayangkan kalau semua orang meneliti hal yang sama, dengan metode yang sama, di tempat yang sama, dan hasilnya juga sama.

Dunia penelitian tidak akan berkembang.

Itulah kenapa setiap penelitian harus memiliki sesuatu yang baru.

Research gap membantu menunjukkan bahwa penelitianmu:

  • Masih relevan untuk dilakukan.
  • Memiliki nilai tambah.
  • Tidak sekadar menyalin penelitian sebelumnya.
  • Dapat memberikan solusi atau temuan baru.

Dengan kata lain, research gap menjadi alasan yang menjawab pertanyaan:

“Kenapa penelitian ini penting dilakukan?”

Contoh Research Gap yang Mudah Dipahami

Misalnya kamu ingin meneliti penggunaan media Canva dalam pembelajaran.

Kamu menemukan beberapa penelitian sebelumnya.

Penelitian A membahas Canva di SMA.

Penelitian B membahas Canva pada mata pelajaran Matematika.

Penelitian C membahas Canva terhadap hasil belajar.

Lalu kamu ingin meneliti:

Pengaruh Media Canva terhadap Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam di MTs.

Nah, di sinilah research gap muncul.

Karena belum ada penelitian yang secara khusus membahas:

  • Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
  • Jenjang MTs.
  • Fokus pada motivasi belajar.

Artinya, penelitianmu memiliki ruang untuk memberikan temuan baru.

Jenis-Jenis Research Gap

Research gap tidak selalu berarti belum pernah ada penelitian sama sekali.

Ada beberapa bentuk research gap yang sering digunakan.

1. Gap Lokasi Penelitian

Penelitian sebelumnya dilakukan di SMA.

Sedangkan kamu meneliti di SMK, MTs, MA, atau perguruan tinggi.

Lokasi yang berbeda bisa menghasilkan temuan yang berbeda pula.

2. Gap Objek Penelitian

Misalnya penelitian sebelumnya dilakukan pada guru.

Kamu meneliti siswa.

Atau penelitian sebelumnya fokus pada mahasiswa, sedangkan kamu meneliti santri.

Objek yang berbeda dapat memberikan perspektif baru.

3. Gap Variabel

Misalnya penelitian lama mengukur:

  • Hasil belajar.

Sedangkan penelitianmu mengukur:

  • Motivasi belajar.
  • Minat belajar.
  • Karakter religius.
  • Literasi digital.

Perbedaan variabel dapat menjadi dasar research gap.

4. Gap Metode Penelitian

Penelitian sebelumnya menggunakan metode kuantitatif.

Kamu menggunakan pendekatan kualitatif.

Atau sebaliknya.

Metode yang berbeda sering menghasilkan sudut pandang yang berbeda.

5. Gap Waktu

Dunia pendidikan terus berubah.

Penelitian lima tahun lalu belum tentu menggambarkan kondisi saat ini.

Misalnya sekarang sudah ada:

  • Artificial Intelligence (AI).
  • Kurikulum Merdeka.
  • Pembelajaran digital.
  • Hybrid learning.

Perubahan zaman bisa menjadi alasan penelitian baru.

Baca juga: Bocoran Pertanyaan Sidang Skripsi

Bagaimana Cara Menemukan Research Gap?

Nah, ini pertanyaan yang paling sering muncul.

Jawabannya sebenarnya sederhana.

1. Baca Banyak Jurnal

Semakin banyak jurnal yang kamu baca, semakin mudah menemukan celah penelitian.

Jangan hanya membaca abstrak.

Perhatikan juga:

  • Tujuan penelitian.
  • Metode.
  • Hasil penelitian.
  • Keterbatasan penelitian.

2. Perhatikan Bagian Saran Penelitian

Ini adalah “harta karun” bagi mahasiswa.

Hampir setiap jurnal memiliki bagian saran.

Di sana penulis biasanya menuliskan hal-hal yang belum sempat diteliti.

Nah, itu bisa menjadi ide penelitianmu.

3. Bandingkan Beberapa Penelitian

Jangan membaca satu jurnal saja.

Bandingkan minimal 10–20 jurnal.

Perhatikan:

  • Apa yang sama?
  • Apa yang berbeda?
  • Apa yang belum pernah dibahas?

Dari situ biasanya research gap mulai terlihat.

4. Amati Kondisi di Lapangan

Kadang research gap justru muncul dari pengalamanmu sendiri.

Misalnya saat PPL.

Kamu melihat siswa lebih tertarik belajar menggunakan video dibanding buku.

Tetapi belum ada penelitian di sekolah tersebut.

Nah, itu bisa menjadi peluang penelitian.

Contoh Research Gap dalam Skripsi

Misalnya kamu mengambil judul:

Pengaruh Penggunaan Quizizz terhadap Motivasi Belajar Pendidikan Agama Islam.

Research gap yang bisa ditulis misalnya:

Penelitian sebelumnya lebih banyak mengkaji penggunaan Quizizz terhadap hasil belajar pada mata pelajaran umum. Sementara itu, penelitian mengenai pengaruh Quizizz terhadap motivasi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat MTs masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Kalimatnya sederhana, tetapi sudah menunjukkan letak kebaruan penelitian.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa

Supaya tidak salah, hindari beberapa kesalahan berikut.

  • Menganggap research gap berarti belum ada penelitian sama sekali.
  • Hanya membaca satu jurnal.
  • Tidak membandingkan hasil penelitian.
  • Menyalin research gap dari skripsi orang lain.
  • Tidak menjelaskan letak kebaruan penelitian.

Ingat, dosen akan lebih mudah menerima penelitian yang memiliki alasan kuat mengapa penelitian itu perlu dilakukan.

Tips Menulis Research Gap agar Meyakinkan

Kalau ingin research gap terlihat kuat, lakukan beberapa hal berikut.

  • Gunakan jurnal terbaru.
  • Bandingkan beberapa hasil penelitian.
  • Jelaskan apa yang belum diteliti.
  • Tunjukkan perbedaan penelitianmu.
  • Hindari klaim seperti “belum pernah ada penelitian” tanpa bukti.

Semakin jelas research gap yang kamu jelaskan, semakin kuat pula dasar penelitianmu.

FAQ

Apakah research gap harus benar-benar baru?

Tidak. Research gap tidak selalu berarti belum pernah ada penelitian. Celah penelitian bisa berupa perbedaan lokasi, objek, variabel, metode, waktu, atau konteks penelitian.

Berapa jumlah jurnal yang sebaiknya dibaca untuk menemukan research gap?

Tidak ada jumlah yang pasti, tetapi membaca sekitar 10–20 jurnal yang relevan biasanya sudah cukup untuk melihat pola penelitian dan menemukan celah yang bisa diteliti.

Apakah skripsi wajib memiliki research gap?

Ya. Hampir semua penelitian ilmiah membutuhkan research gap sebagai dasar yang menjelaskan mengapa penelitian tersebut layak dilakukan.

Apakah research gap sama dengan masalah penelitian?

Tidak. Masalah penelitian adalah persoalan yang terjadi di lapangan, sedangkan research gap adalah celah dalam penelitian terdahulu yang belum terjawab atau masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Di bagian mana research gap ditulis?

Umumnya research gap dijelaskan pada bagian latar belakang setelah membahas penelitian terdahulu dan sebelum masuk ke rumusan masalah atau tujuan penelitian.

Penutup

Research gap bukanlah istilah yang perlu ditakuti. Justru, bagian inilah yang membuat penelitianmu memiliki alasan kuat untuk dilakukan. Semakin jelas kamu menunjukkan apa yang belum dibahas oleh penelitian sebelumnya, semakin mudah dosen memahami nilai tambah dari penelitianmu.

Mulailah membiasakan diri membaca jurnal, membandingkan hasil penelitian, dan mencatat bagian-bagian yang masih menyisakan pertanyaan. Dari situlah ide penelitian yang berkualitas biasanya lahir.

Ingat, skripsi yang baik bukanlah skripsi yang memiliki judul paling rumit, tetapi penelitian yang mampu menjawab kebutuhan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi, sekecil apa pun, bagi dunia akademik maupun masyarakat.

Ingin belajar lebih banyak tentang dunia penelitian dan skripsi? Ikuti terus artikel kami yang membahas metodologi penelitian, cara menyusun proposal, contoh research gap, teknik analisis data, hingga tips menghadapi seminar proposal dan sidang skripsi dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami, dan relevan untuk mahasiswa masa kini.

Tinggalkan komentar